OPINI

Bulan Ramadhan dan Komodifikasi Waktu Luang

Oleh : Muh. Iswar Ramadhan

RAMADHAN merupakan bulan yang sangat mulia bagi umat muslim di seluruh penjuru dunia, karena pada bulan ini segala dosa akan diampuni dan semua pahala dari ibadah yang dilakukan oleh umat muslim akan dilipat gandakan. Seluruh umat islam meyakini hal tersebut bahkan termasuk mereka yang tidak pernah beribadah dan tidak pernah mengetahui rukun islam sekalipun.

Masyarakat pun antusias dalam menyambut bulan penuh berkah ini, namun tak hanya masyarakat saja yang ikut antusias dalam menyambut bulan ramadhan, media massa pun ikut berbondong-bondong dalam menyambut bulan yang penuh berkah bagi seluruh umat muslim di dunia. Semarak media massa dalam menyambut ramadhan sangat jelas terlihat dengan munculnya iklan-iklan di media massa khususnya televisi serta tayangan yang dikemas menarik dengan nuansa ramadhan.

Momen ramadhan yang setiap tahunnya dirayakan oleh umat muslim di seluruh dunia, khusunya di Indonesia, oleh media massa dianggap sebagai suatu ceruk pasar yang sangat berpotensial untuk mendatangkan keuntungan yang sangat besar. Selama bulan ramadhan, pengurangan jam kerja serta meliburkan para peserta didik menjadi hal yang rutin, sehingga kebanyakan dari orang-orang terlebih para ibu rumah tangga dan anak sekolahan menjadikan televisi sebagai tawaran menarik untuk mengisi waktu luang, terlebih aktivitas berpuasa memang bisa membuat tubuh menjadi lemas, sehingga orang-orang menjadi malas untuk beraktivitas diluar rumah.

Pada momen inilah televisi mengambil peran penting dalam mengisi waktu luang masyarakat, dengan tayangan yang dikemas menarik dengan nuansa ramadhan, hal ini dilakukan televisi bukan semata-mata untuk memenuhi salah satu fungsi dari televisi yaitu “to entertain” melainkan sebagai salah satu langkah untuk mengikat pengiklan, karena program televisi tidaklah sama dengan komoditas material seperti pakaian, atau peralatan rumah tangga.

Fungsi ekonomi program televisi belumlah lengkap jika hanya dijual, karena pada prosesnya televisi akan berubah menjadi produsen, dan yang diproduksinya adalah masyarakat yang kemudian akan dijual kepada pengiklan. Bagi banyak orang, audiens yang telah terkomodifikasi merupakan salah satu produk paling penting dari sebuah industri televisi yang kelak akan dijual kepada calon pengiklan.

Smythe dalam Fiske (2011) menyatakan kapitalisme telah memperluas kekuasaannya, dari ranah kerja ke ranah waktu luang, sehingga menonton televisi merupakan salah satu upaya untuk membantu industri media dalam menciptakan produk baru yang bisa ditawarkan kepada para pengiklan.

Ramadhan memang selalu membawa berkah, tak terkecuali pada industri media massa khususnya televisi, terlebih pada momen ramadhan kali ini terdapat dua event olahraga, yaitu gelaran EURO 2016 dan COPA AMERICA yang tentunya menjadi daya tarik bagi industri televisi yang memiliki hak siar atas dua event sepakbola tersebut.

Bagi masyarakat awam event sepakbola tersebut menjadi sesuatu yang sangat menghibur terlebih gelaran sepakbola tersebut hanya diadakan setiap 4 tahun sekali, akan tetapi bagi industri media khususnya televisi, gelaran sepakbola tersebut merupakan salah satu magnet untuk mengikat penonton guna mendatangkan iklan yang banyak.

Akibatnya masyarakat digiring menjadi masyarakat yang pasif, lalu kemudian menjadi masyarakat yang konsumtif, masyarakat tidak dianggap sebagai orang-orang yang memang butuh akan informasi, namun industri media (televisi) hanya menganggap masyarakat sebagai pangsa pasar yang sangat potensial.

Selain masalah komodifikasi waktu luang, yang selalu menjadi masalah adalah persoalan konten dari tayangan selama bulan ramadhan, bahkan salah satu komisioner KPI yang lalu, Idy Muzayyad menjelaskan ada acara variety show dan komedi di bulan Ramadhan yang didominasi oleh candaan dan lawakan yang tidak bermutu. Para pemasang iklan dan perusahaan iklan nampaknya juga “berguru” pada industri media yang tak menganggap kualitas isi siaran sebagai persoalan penting, walau mereka menganggap mutu tayangan acara televisi sangat jauh dari kata baik, namum bagi mereka yang utama adalah acara itu ditonton banyak orang.

Ramadhan bagi industri televisi adalah sebuah momentum tepat untuk menyiarkan tayangan-tayangan keagamaan, bukan demi dampak tayangan tersebut bagi masyarakat, namun bagi televisi itu sendiri. Jika memang tayangan yang muncul dilayar kaca pada saat ramadhan dikhususkan untuk khalayak, maka sejak dulu masyarakat mendapatkan banyak manfaat, namun selama ini, momentum ramadhan di televisi tidak pernah meninggalkan jejak spiritual bagi masyarakat.

Saat bulan ramadhan usai dan pesta lebaran telah selesai, masyarakat akan kembali ke sedia kala, begitulah tradisi yang terawat bertahun-tahun terakhir. Ramadhan hanyalah momentum yang dikomodifikasi sedemikian rupa oleh industri televisi. (***)

Penulis Adalah Jurnalis Hallo Media Network (HMN) dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia