FINANSIAL

Kebijakan Moneter, Penurunan Suku Bunga Kredit Lamban

Kebijakan Moneter, Penurunan Suku Bunga Kredit Lamban.

Indonesiarayakini.com, Semarang – Kebijakan Bank Indonesia (BI) melonggarkan kebijakan moneter dengan maksud agar bank bisa mentransmisikan ke dalam penurunan suku bunga simpanan dan kredit ternyata tidak berjalan dengan mulus. Meskipun suku bunga dana sudah turun cepat dan signifikan, penurunan bunga kredit masih lambat.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Yoga Affandi dalam pelatihan wartawan di Kantor Perwakilan BI Semarang, Jawa Tengah, akhirn pekan lalu, mengatakan masih lambatnya penurunan bunga kredit itu karena perbankan melakukan penyesuaian likuiditas seiring dengan jatuh tempo pelunasan kewajiban valuta asing mereka.

Menurut Yoga, penurunan bunga deposito bank cukup cepat dan sudah mencapai 100 basis poin (bps) atau satu persen ke level 6,94 persen, sejak Januari hingga Agustus tahun ini. Sedangkan, penurunan suku bunga kredit masih lambat yakni 52 basis poin sejak awal 2016 ke posisi 12,31 persen.

Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan pada posisi Agustus 2016 tercatat tumbuh 5,6 persen atau lebih rendah dibanding pertumbuhan kredit hingga Agustus yang tercatat 6,8 persen, masih di bawah target di kisaran 7-9 persen hingga akhir tahun.

Sebagai informasi, kebijakan Bank Indonesia melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate bertujuan untuk mendongkrak pertumbuhan kredit yang juga berimbas kepada pertumbuhan ekonomi.

Sebab, hampir semua negara saat ini lebih fokus menggerakkan ekonomi domestik sebagai sumber pertumbuhan di tengah lesunya perekonomian global. “Perdagangan global merosot lebih tajam dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) global, sehingga negara-negara memilih menggerakkan ekonomi domestik,” kata Yoga.

Yoga optimistis, perekonomian Indonesia pada kuartal III-2016 masih terjaga dengan baik meskipun tidak sekuat perkiraan sebelumnya. Hal itu ditopang oleh masih cukup kuatnya konsumsi rumah tangga yang terindikasi dari relatif stabilnya kinerja penjualan eceran dan penjualan sepeda motor yang positif.

Sementara investasi nonbangunan terindikasi belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Minat investasi swasta diperkirakan masih belum kuat, sejalan dengan konsolidasi yang dilakukan oleh sektor korporasi sebagai respon pemintaan yang belum sepenuhnya pulih.

Sementara itu, stimulus fiskal diperkirakan masih terbatas, sejalan dengan penyesuaian belanja pemerintah pada semester II 2016. (one/fkc/res)