FINANSIAL

Strategi Bisnis DIM Targetkan 30.000 Nasabah Ritel di Tahun 2017

PT Danareksa Invesment Management (DIM).

Indonesiarayakini.com, Jakarta – PT Danareksa Invesment Management (DIM) menargetkan jumlah nasabah ritel hingga 2017 mencapai 20.000-30.000 nasabah ritel. DIM akan memfokuskan penambahan investor ritel melalui penggunaan platform online.

Direktur Utama Danareksa Investment Management, Prihatmo Hari Mulyanto mengatakan, platform online DIM pertama kali diluncurkan pada 2008. Sejak platform online diluncurkan hingga saat ini jumlah nasabah ritel sudah mencapai 10.000.

“DIM menargetkan hingga akhir 2016, jumlah nasabah ritel bertambah menjadi 12.500. Hingga posisi saat ini jumlah nasabah ritel mencapai 20.000an. Setahun ke depan kita harapin ada 20.000-30.000 nasabah,” kata Prihatmo di Jakarta, Kamis (29/9/2016).

Mengacu pada kenaikan rata-rata pertumbuhan nasabah ritel per triwulan sebanyak 2.500 nasabah ritel. Sementara itu untuk nilai transaksi auto collection terbilang cukup besar, yakni rata-rata transaksi per hari per debit bisa mencapai 500.000 rupiah sampai 600.000 rupiah.

Bahkan ada yang mencapai 10 juta rupiah sekali transaksi. Prihatmo mengklaim dengan kerja sama pada dua bank saja sudah mencapai angka 15 persen melebihi market share industri. Ditambah lagi nasabah yang menabung di Bank Mandiri saja sudah mencapai 17 juta. “Jadi kita cukup dua bank saja dulu,” ujarnya.

DIM menargetkan hingga akhir tahun total dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) sebesar 18 triliun rupiah. Hingga saat ini dana kelolaan DIM mencapai 17,7 triliun rupiah, meningkat 5 miliar rupiah dari raihan per Agustus 2016 sebesar 17,2 triliun rupiah. “Jadi AUM kita sudah bertambah lagi menjadi 17,7 triliun rupiah,” jelasnya.

Terkait dana repatriasi, Prihatmo menambahkan bisa meningkatkan dana kelolaan dan diharapkan bisa di angka 20an triliun rupiah. Sementara itu untuk target dana kelolaan tahun depan, Prihatmo belum bisa menyampaikannya karena bujetnya belum disetujui. Meski demikian, ia berharap dana kelolaan tumbuh di atas industri 15 persen.

Sementara itu dengan rencana membuat produk Dana Investasi Real Estate (DIRE), DIM akan lebih membidik pada produk komersial seperti hotel atau mal. Saat ini DIM memiliki beberapa target dan sedang masuk tahap due dilligence sehingga belum selesai diputuskan.

Due dilligence pun diharapkan bisa rampung secepatnya. Untuk nilai investasinya, kalau mengacu pada skala ekonomi semestinya minimal 500 miliar rupiah, karena kalau di bawah angka tersebut maka di pasar secondary market akan repot karena nilainya terlalu kecil. “Jadi harapannya begitu due dilligence selesai kemudian pajaknya beres,” ujar Prihatmo.

Guna mempermudah investor ritel dalam melakukan pembelian reksadana, DIM merangkul Bank Mandiri untuk memberikan layanan keuangan non tunai. Melalui kerja sama tersebut, investor ritel DIM dapat memanfaatkan layanan Mandiri Auto Debit dan Clickpay sebagai solusi transaksi perbankan untuk berinvestasi reksadana. (mae/fkb)