BEKASI

Akibat Ledakan Hebat, PHD di Bekasi Hancur dan Rata Dengan Tanah

AKibat Ledakan Hebat, PHD di Bekasi Hancur dan Rata Dengan Tanah.

Indonesiarayakini.com, Bekasi – Ledakan dahsyat terjadi di restoran siap saji Pizza Hut Delivery (PHD), Jalan Raya Hankam, Kelurahan Jatimurni, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi. Kuatnya ledakan membuat bangunan PHD hancur rata dengan tanah dan merusak sejumlah bangunan di sekitarnya. Tidak ada korban jiwa akibat ledakan yang diduga dari kebocoran gas ini karena saat kejadian restoran belum beroperasi. Ledakan terjadi sekitar pukul 06.30 WIB.

Kencangnya suara ledakan di pagi hari itu membuat warga di sekitar restoran berhamburan keluar rumah. Mereka kaget saat mengetahui PHD yang lokasinya tidak jauh dari pintu keluar tol Jatiwarna itu kondisinya sudah rusak parah. Dahsyatnya ledakan itu juga membuat material bangunan milik restoran cepat saji itu terlempar sampai puluhan meter.

Pintu kaca serta kanopi berhamburan sampai dekat jalan raya. Papan nama restoran dan sebuah minimarket di pinggir jalan juga turut hancur berantakan. “Tidak ada api, hanya suara ledakan itu terdengar hingga jarak 3 km,” ujar Ibnu, 30, salah satu saksi di lokasi kejadian.

Pengusaha sebuah perusahaan ekspedisi ini menjelaskan, kaca kantor yang berdekatan dengan lokasi ledakan juga turut pecah. Warga yang berada berdekatan dengan lokasi ledakan pun shock. Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Umar Surya Fana mengatakan, tekanan akibat ledakan di PHD cukup kuat hingga membuat bangunan itu nyaris rata dengan tanah.

Tak hanya itu, bangunan di kiri, kanan, dan belakangnya juga sebagian ambruk. “Kami menduga ledakan berasal dari tabung gas elpiji 50 kg yang bocor di bagian belakang Gedung PHD, yakni dapur penyimpanan gas tersebut,” katanya.

Akibat ledakan itu, selain bangunan PHD yang runtuh dan rata dengan tanah, sebagian bangunan minimarket dan toko kelontong serta tiga rumah penduduk juga ambruk. Satu unit mobil yang parkir di depan minimarket rusak, sedangkan puluhan bangunan lainnya rusak ringan.

Umar memastikan tidak ada korban jiwa dalam ledakan tersebut. Namun ada beberapa warga yang berada tidak jauh di lokasi mengalami luka ringan. Ada tiga saksi yang diperiksa untuk mengetahui ledakan ini. Mereka adalah Jhon Hendri, 49 (tukang parkir), Tulius Widodo, 39 (staf minimarket samping PHD), dan Libotius Steven Kendye, 23 (pegawai yang terakhir menutup Gedung PHD).

Jhon Hendri menuturkan, dirinya kaget saat mendengar suara ledakan cukup keras. “Awalnya saya mengira restoran dibom, soalnya meledaknya kencang banget,” ujarnya.

Kabid Balistik Metalurgi Forensik (Puslabfor) Mabes Polri Kombes Ulung Kanjaya mengatakan penyebab ledakan bisa karena adanya kebocoran dari gas. Ledakan ini dapat terjadi meskipun tidak ada aktivitas di dalam ruangan tersebut. Ulung menyebut aliran listrik dapat memicu timbulnya ledakan bila gas dalam ruangan tersebut sudah terkumpul dalam kepadatan tertentu.

Ulung menambahkan, jika tidak ada aktivitas pun sementara kepadatan gas sudah melebihi ketinggian tertentu, sakelar listrik juga bisa memicu ledakan. Manajer Operasional PHD Kamaludin mengatakan, di bagian belakang ada empat tabung gas ukuran 50 kg, dua di antaranya telah kosong.

Pihaknya masih menunggu hasil penyelidikan terkait ledakan ini. “Kami belum bisa memastikan penyebabnya, kami serahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk mengungkapnya,” katanya.

Menurutdia, selama ini penggunaan tabung gas sudah sesuai dengan standard operating procedure (SOP).
Seusai beroperasi pada pukul 02.00 WIB, karyawan yang bertugas di dapur selalu mengecek regulator gas dan tabung gas agar aman. Bahkan, kata dia, setiap selesai beroperasi lampu dan gas selalu dimatikan. Hanya lampu depan yang menyala.

PHD juga mempunyai sensor gas elpiji yang memberi tahu jika ada kebocoran.
Pihaknya masih mengidentifikasi para korban ledakan itu. Sejauh ini informasi yang baru merekadapat, hanya ada seorang anak berusia 14 tahun yang dirawat di Rumah Sakit Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.

Menurut ahli kimia dari Universitas Indonesia (UI) Budiawan, gas yang biasa dipakai untuk memasak itu mengandung bahan kimia propana yang relatif mudah terbakar. Gas propana tersebut biasanya diberi tambahan senyawa kimia metilsulfida. “Inisebagaiindikatorbau sulfur jika terjadi kebocoran gas tersebut,” jelasnya.

Karena sifatnya yang sensitif, perlakuan terhadap gas ini pun harus hati-hati. Seharusnya jika terjadi kebocoran sudah bisa tercium dari bau sulfur yang dikeluarkan dari tabung. Hanya apakah hal itu disadari atau tidak oleh penggunanya.

“Sifat gas ini sensitif terhadap api dan mudah meledak. Daya ledakan tergantung pada volume dan kondisi ruang. Jika tertutup, kekuatan ledakan semakin besar,” tandasnya. (zul/hlb)