TANGERANG

Tim Gabungan Berhasil Lumpuhkan Gembong Narkoba, Dua Orang Tewas

BNN tangkap gembong narkoba di Tangerang.

Indonesiarayakini.com, Jakarta – Dua orang tersangka tertembak oleh petugas Badan Narkotika Nasional saat penggerebekan di gudang penyimpanan sabu di Kosambi Tangerang, Banten, salah seorang diantaranya belakangan diketahui sebagai anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Aksi tembak menembak antara petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan gembong narkoba di Kompleks Pergudangan Sentral Kosambi, Tangerang menjadi awal pengungkapan sabu ratusan kilogram dan ratusan ribu butir happy five. Dalam peristiwa itu, dua orang pelaku tewas.

Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso mengatakan pihaknya mendapatkan informasi mengenai dugaan adanya penyelundupan narkotika dari Taiwan ke Indonesia melalui jalur laut. BNN kemudian melakukan koordinasi dengan Bea Cukai untuk menyelidiki dugaan itu. Dari sebuah operasi yang cukup panjang, sekitar sebulan, akhirnya diketahui narkotika itu diselundupkan dengan modus disembunyikan di dalam sofa.

Petugas BNN dan Bea Cukai segera menyelidiki ke mana barang itu dikirimkan. Hasil penguntitan, diketahui sofa-sofa itu dikirim ke sebuah gudang di Kompleks Pergudangan Sentra Kosambi, Dadap, Tangerang. Saat tim ingin menggerebek gudang itu, sebuah mobil dengan dua pengendara keluar.
Pasukan BNN mencoba menghentikan laju mobil itu.

Tapi, sebelum memaksa pelaku keluar mobil, sebuah tembakan muncul dari seorang pelaku. Dua pelaku itu pun mencoba melarikan diri. Dua pelaku itu berinisial HCHL (35) yang merupakan warga Taiwan dan ZA (31), warga negara Indonesia yang diketahui seorang anggota TNI berpangkat praka dari kesatuan Paskhas Halim Perdanakusuma.

“Keduanya tewas karena berupaya melakukan perlawanan dengan mengumbar tembakan dan berusaha melarikan diri,” kata Buwas, sapaan Budi Waseso saat ekspose perkara bersama dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi, Kepala BNN Letjen Pol Budi Waseso, Deputi Pemberantasan BNN Brigjen Pol Arman Depari, dikantor BNN, Jakarta.

Dari mobil itu, ditemukan 40 bungkus sabu seberat sekitar 40,25 kilogram. Dari jumlah itu, sebanyak 38 bungkus atau 38,244 kilogram disimpan di dalam sebuah koper dan sisanya disembunyikan di bawah jok mobil. Selanjutnya, petugas merangsek ke dalam gudang Blok H5J dan menemukan seorang warga negara Taiwan lain berinisial YJCH (33).

Ketika ditangkap, YJCH sedang membongkar kursi sofa berisi 60 bungkus sabu seberat 60,361 kilogram dan sekitar 300.250 butir H5. “Keseluruhan, barang bukti narkoba yang kami sita sebanyak 100,615 kilo gram sabu dan 300.250 butir H5. Barang bukti lain berupa satu senjata api, delapan butir peluru, dua buah selongsong peluru, satu buah mobil dan sembilan telepon genggam,” terang Buwas.

Dari hasil pemeriksaan, kata Buwas, obat terlarang itu rencananya akan diambil oleh masing-masing pembeli selanjutnya diedarkan ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Tangerang dan Semarang. “Kami bekerjasama dengan Bea Cukai masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui jaringanndan jalur penyelundupan narkotika dari sindikat tersebut,” tutur Buwas.

Komandan Pusat Polisi Militer TNI Mayor Jenderal Dodi Wijanarko membenarkan ZA merupakan anggota Korps Pasukan Khas TNI AU (Kopaskhas) Wing I yang bermarkas di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Menurut Dodi selain ZA, satu orang lainnya, yakni YJCH ditangkap hidup-hidup.

Komjen Pol Budi Waseso mengatakan peran TNI sangat diharapkan untuk menjadi mitra yang kuat baik dalam upaya pencegahan dan juga pemberantasan narkoba. Ia juga menyampaikan semua pihak harus waspada karena narkoba telah memakan korban yang banyak jumlahnya.Ia menyebutkan, tidak kurang dari 40 hingga 50 anak bangsa mati sia-sia karena narkoba.

Maraknya penyalahgunaan dan juga peredaran narkoba harus menjadi perhatian segala lini bangsa. Karena pada faktanya tidak ada satupun institusi yang bebas dari narkoba. Bahkan dalam bisnis haram ini, ada oknum aparat yang turut bermain. Hal ini tentu saja disesalkan oleh jenderal bintang tiga ini.

Karena ancamannya yang sangat nyata, Kepala BNN mengungkapkan, agar BNN dan juga TNI saling bersinergi secara nyata baik dalam upaya pencegahan dan juga pemberantasan narkoba. “Dalam konteks pencegahan, anggota TNI bisa menjadi penyuluh, sedangkan dalam ranah pemberantasan, maka anggota TNI bisa memberikan informasi tentang adanya dugaan penyalahgunaan atau peredaran narkoba sehingga bisa diteruskan ke BNN atau juga Polri, “imbuh mantan Kabareskrim ini.

Karena itulah, Buwas meminta agar masing-masing instansi dapat melakukan aksi nyata dan bisa menghilangkan ego sektoral karena mengurusi masalah narkoba harus secara bersama.

Senada dengan Kepala BNN, Panglima Koarmatim, Laksamana Muda TNI Darwanto mengatakan bahwa persoalan narkoba adalah tanggungjawab semua pihak karena kejahatan ini termasuk dalam kategori luar biasa dan berpotensi merusak bangsa dan negara.

Ia menegaskan di hadapan anggotanya agar tidak main-main dengan narkoba. Menurutnya, jika ada oknum anggotanya yang terlibat dalam kejahatan ini maka ia adalah pengkhianat negara. “Jika ada anggota saya yang terlibat maka akan langsung dipecat tanpa perlu banyak proses,” tegas Darwanto di hadapan ribuan anak buahnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengapresiasi petugas gabungan dari BNN, Bea Cukai dan Polri terkait pengungkapan 100 kg sabu dan 300 ribuan butir happy five. Dia menilai kerjasama ini perlu ditingkatkan untuk memberantas narkoba di tanah air. “Saya betul memberikan pengharaan yang tinggi terhadap jajaran Bea cukai dan koordinasi dengan BNN karena bisa menggagalkan penyelundupan seperti ini,” kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengatakan hingga saat ini Bea Cukai dan BNN terus bekerjasama melakukan penyelidikan untuk mengetahui jaringan dan jalur penyelundupan narkotika dari sindikat narkotika asal Taiwan tersebut. Menurutnya selama dua tahun ini kasus penyelundupan narkotika di Indonesia meningkat.

Dia mengatakan kerjasama semacam ini harus ditingkatkan lagi. “Untuk tahun ini kasus penyelundupan narkotika mengalami peningkatan di tahun 2014 ada 219 kasus, dengan barang bukti seberat 316 kg. Untuk tahun 2015 ada 176 kasus, dengan barang bukti seberat 599 kg. Dan Untuk tahun ini saja sampai November ini ada 223 kasus dengan barang bukti seberat 1.720 kg,” ujarnya. (hap/rdp)