OPINI

Eksploitasi “Tampang Boyolali” Adalah Puncak Kepribadian Cengeng

Aksi bela "Tampang Boyolali".

CENGENG ADALAH sifat atau karakter yang biasanya dijumpai di dalam diri anak-anak balita atau remaja. Bisa juga diidap oleh orang dewasa yang bermental lemah. Mentalitas yang tidak memiliki kemandirian.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan “cengeng” dalam beberapa lingkup arti, termasuk “lemah semangat”, “mudah menangis”, atau “mudah tersinggung”. Inilah antara lain pengertian “cengeng”.

Peristiwa “tampang Boyolali” yang dilaporkan ke Polda Metro Jaya dengan alasan Prabowo Subianto (PS) melecehkan warga Boyolali, saya pastikan bahwa ini masuk ke dalam kategori makna “cengeng” yang dicantumkan oleh KBBI.

Kenapa bisa saya pastikan? Karena istilah yang diucapkan Pak PS itu adalah candaan metaforik. Seratus persen sarkastik. Bukan penghinaan. Tidak seharusnya pelapor tersinggung. Kenyataannya, audiens yang mendengarkan pidato PS tidak ada yang merasa tersinggung.

Tidak mungkin Pak PS melakukan “bunuh diri politik” dengan cara menghina orang Boyolali. Beliau perlu warga Boyolali di pilpres 2019, dan sangat menghargai mereka.

Soal penghinaan atau bukan, sudah kita bicarakan di tulisan terdahulu. Kali ini kita melihat mentalitas cengeng di kubu lawan Pak PS.

Wajar disebut sebagai “mentalitas cengeng” karena sudah berulangkali mereka tunjukkan “sikit-sikit lapor ke Polisi, sebentar-sebentar mengadu ke Polisi”. Sebut saja pelaporan terkait kebohongan Ratna Sarumpaet. Sebelumnya, Fadli Zon dilaporkan soal lagu “Potong bebek-angsa”. Dan banyak lagi laporan yang terlapornya adalah orang-orang opisisi.

Entah mengapa mereka menjadi sensitif sekali. Cepat sekali tersinggung. Dan ada kesan bahwa pihak lawan sengaja diintip-intip terus, menunggu terjadi kesalahan.

Kalau suasana seperti kita lanjutkan, bakalan banyak resource (sumberdaya) yang hilang, tersia-siakan. Bangsa Indonesia akan terkena dampak berpikir mundur akibat ulah kelompok yang bermentalitas cengeng itu.

Negara ini memerlukan pemimpin yang tidak cengeng. Juga rakyat yang tidak cengeng. Sangat mengherankan mengapa sampai ada kelompok yang hari ini begitu cengeng menghadapi proses politik yang sebetulnya biasa-biasa saja. Proses demokrasi yang sangat normal.

Saya menduga, kelompok cengeng hampir pasti dipimpin oleh orang cengeng. Yaitu, orang yang perjalanan hidup dan karirnya selalu diselimuti oleh personalitas yang tak bermutu. Kepribadian yang lemah. Keperibadian yang tidak memiliki rasa percaya diri. Orang yang tidak punya “confident”. Kepribadian yang selalu mengandalkan kecakapan orang lain. Atau, dalam bahasa politik, orang yang memiliki kepribadian boneka. Puppet personality.

Rakyat harus mencegah keberlanjutan suasana “puppet personality” ini. Sangat berbahaya bagi semua orang. Termasuk bagi kelompok cengeng yang dipimpinnya sendiri. Mentalitas cengeng jangan sampai menjadi tabiat baru orang Indonesia.

Dalam bahasa Inggris, “cengeng” disebut “fractious”. Kata ini memiliki makna yang sangat memprihatinkan. Ada tiga pengertian yang kurang sedap itu.

Pertama, “tidak mau dikasih tahu atau diatur” (stubbornly resistant to authority or control) . Kedua, “menjengkelkan” (irritable atau annoyed). Dan ketiga, “gerak-geriknya sangat tak bisa dipediksi” (unpredictably difficult in operation), dan hampir pasti “membuat onar” (likely to be troublesome).

Bagi saya, mencari-cari kesalahan atau eksploitasi “tampang Boyolali” hanya pantas dikatakan sebagai “puncak kepribadian cengeng” yang mereka miliki secara berjemaah.

Oleh : Asyari Usman, wartawan senior